bet365 official website_Online Casino Baccarat_Online Gaming Forum_Online gambling_Baccarat experience

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Taruhan lotre

DilBaccarat plaBaccarat plannansir dari Kompas, kini ada leBaccarat planbih dari 300 gerai KBaccarat planopi Kenangan di Indonesia Baccarat planyang memiliki 3.000 karyawan. Edward dan James juga terus melakukan inovasi, misalnya membuat aplikasi ponsel khusus untuk membeli menu di Kopi Kenangan. Hingga kini, aplikasi tersebut sudah menjangkau lebih dari 1 juta pelanggan. Mereka juga mendapat dana dari berbagai investor seperti Sequoia India, Arrive, Serena Ventures dan Alpha JWC Ventures. Keren!

Beberapa tahun lalu, Kopi Kenangan didirikan saat bisnis kafe belum terlalu ramai. Mereka menerapkan berbagai cara agar usahanya berkembang terus. Yuk simak perjalanan mereka!

Belajar dari kesalahannya, Edward berusaha mengamati tren dengan lebih cermat. Dia menyadari kalau ada banyak orang Indonesia yang suka nongkrong sambil minum kopi. Tetapi beberapa tahun lalu, jumlah kafe masih sedikit dan harga kopinya pun relatif mahal. Sebab pasar kopi di dalam negeri masih dikuasai merek-merek internasional. Melihat peluang itu, Edward mengajak James untuk mendirikan kafe yang menjual kopi lokal berkualitas dengan harga terjangkau.

Kini, Edward dan James berusaha mengelola dan mengembangkan gerai-gerai Kopi Kenangan di Indonesia. Mereka juga berencana untuk membuka cabang di luar negeri agar bisa memperkenalkan nikmatnya kopi Tanah Air pada sebanyak mungkin orang. Semoga berhasil!

Dengan penuh semangat, Edward dan James menyiapkan berbagai hal untuk mendirikan Kopi Kenangan. Mulai dari memilih biji kopi lokal, membeli mesin pembuat kopi yang tepat, hingga merekrut beberapa karyawan untuk membantu pengelolaan. Akhirnya kafe ini dibuka pada 2017 di Menara Standard Chartered, Jakarta Selatan. Mereka sempat khawatir kalau-kalau nggak ada pengunjung yang datang. Syukurlah, ternyata Kopi Kenangan mendapat sambutan yang cukup baik dan bisa menjual 700 gelas kopi pada hari pembukaan.

Karyawan menggunakan mesin kopi | Image from Kopi Kenangan on Instagram via www.instagram.com

Menu yang dijual | Image from Kopi Kenangan on Instagram via www.hipwee.com

Berkat perjuangan keras mereka, Edward dan James bisa menikmati hasil yang menggembirakan. Bahkan James berhasil masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30 di Asia dalam bidang Retail & Commerce 2019.

Edward dan James ingin para pembeli merasa nyaman saat datang ke kafe. Jadi keduanya sengaja memilih nama Kopi Kenangan agar terkesan lebih akrab dan merakyat, terutama bagi anak muda. Nama-nama kopi yang dijual pun tergolong unik dan receh. Ada lebih dari 20 jenis kopi dan minuman lainnya yang diberi nama Kopi Kenangan Mantan, Kopi Kenangan Masa Lalu, Kopi Lupakan Dia, dan lain-lain.

Para karyawan di depan gerai | Image from Inside Kopi Kenangan on Instagram via www.instagram.com

Edward dan James adalah lulusan jurusan bisnis dari universitas di Amerika Serikat. Meski punya latar belakang pendidikan yang keren, nggak berarti mereka langsung sukses. Dulu mereka pernah mencicipi kegagalan saat berbisnis. Misalnya saat Edward mendirikan Lewis & Carroll Tea (L&C) yang menjual teh seharga 40-60 ribu per cangkir. Ternyata harganya terlalu mahal untuk sebagian orang Indonesia sehingga hasilnya kurang sesuai harapan.

Nama unik tersebut berhasil menyedot perhatian banyak orang. Dengan sukarela, para pembeli pun mempromosikan menu Kopi Kenangan di media sosial sehingga Edward dan James bisa menghemat biaya marketing. Kopi mereka makin disukai karena harganya mulai dari 15 ribu rupiah per gelas, lebih terjangkau dibandingkan kopi merek internasional. Apalagi tersedia berbagai jenis minuman lainnya seperti teh dan susu untuk orang-orang yang kurang suka kopi.

Banyak orang Indonesia yang suka minum kopi, apalagi kalau sambil mengobrol bersama teman. Bisa sampai lupa waktu deh! Nggak heran kalau ada berbagai kafe di mana-mana. Para pengusaha pun berusaha menyuguhkan kopi yang paling lezat sekaligus terjangkau. Nah, salah satu kafe yang terkenal adalah Kopi Kenangan milik Edward Tirtanata dan James Prananto.