Gambling rules_Baccarat Forum_Baccarat strategy_Casino Baccarat

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Taruhan lotre

ArgBaccarat betting methodBaccarat bettBaccarat betting methoding methodumen lain Jokowi dari koreksinya (yang terlambat) itu adalah bahwa peristiwa kebakaran tidak pernah sampai mengganggu jadwal penerbangan dan protes asap dari negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Beliau lantas meminta pernyataannya semalam tak direspons terlampau berlebihan. “Jangan dilebih-lebihkan seperti itu,” ujarnya.

Plus, kita belum bicara soal –lagi-lagi–potensi konflik agraria dengan masyarakat sekitarnya. Sudah ditanyakan, tapi memang tidak ada yang menjawab.

Padahal, laporan Greenpeace mengatakan bahwa 25 produsen minyak sawit di Indonesia telah membabat 130 ribu hektare hutan dalam empat tahun terakhir. Cara termurah untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit memang dengan pengalihan lahan hutan, padahal tentu itu tidak ramah lingkungan. Tindakan ini akan merusak keanekaragaman hayati, karena tak semua fauna bisa hidup di perkebunan kelapa sawit.

Ini lebih dari persoalan ganti untung, ganti rugi, atau ganti presiden, Pak ~

Akhir tahun kemarin, belasan eks pekerja PT Freeport Indonesia (PTFI) melakukan aksi di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta. Mereka menolak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dilakukan oleh PTFI karena dinilai melanggar Undang-Undang dan etika bisnis. PTFI memang melakukan PHK massal demi memberlakukan furlough atau kebijakan efisiensi strategis karena adanya tarik ulur perundingan antara pemerintah Indonesia dengan PTFI terkait divestasi saham. Bahkan, manajemen PTFI juga sudah mencabut berbagai fasilitas yang mestinya diterima karyawannya, contohnya fasilitas BPJS Kesehatan. Tercatat, kebijakan ini membuat 35 orang meninggal dunia akibat tidak mampu membayar biaya berobat ke rumah sakit.

Isu proyek-proyek reklamasi yang merongrong keseimbangan alam kita sebenarnya sudah cukup banyak mendapat atensi di berbagi media, aktivis, dan komunitas. Ambil contoh, yang paling tenar saja, yakni reklamasi Teluk Benoa di Bali dan reklamasi Teluk Jakarta. Faktanya, malah cuma dua kali kata “reklamasi” muncul sepanjang debat semalam.

Pak Jokowi menggembar-gemborkan angka produksi sawit Indonesia yang mencapai 46 juta ton per tahun dan melibatkan petani kurang lebih 16 juta orang.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukan bahwa memang terdapat penurunan drastis kebakaran di tahun 2015 hingga 2017. Angka 891.275 hektare lahan gambut yang terbakar di tahun 2015 turun menjadi 97.787 hektare pada 2016, dan 13.555 hektare pada 2017. Namun, angka kebakaran kembali melejit di tahun 2018, yakni 125.340 hektare.

Sebagai orang yang kesal sekali dengan kebijakan-kebijakan lingkungan dan agraria dari Pak Jokowi, saya berharap Pak Prabowo bisa “menghajar” dan memberikan perlawanan. Tapi beliau ini semacam mahasiswa ujian lisan yang belajar kebut semalam. Materinya tipis, cuma hapalan. Analisisnya tumpul, tanpa ada pemahaman teknis tindakan pemerintah, atau perbendaharaan kasus-kasus terkait.

Presiden Jokowi belum lama sudah turun lapangan menemui perwakilan eks karyawan PT Freeport Indonesia, namun tindakan lanjut yang diambil belum banyak berarti .

Berikut adalah luapan kegemasan saya tatkala menonton debat semalam. Seharusnya lima hal ini turut jadi percakapan yang berpeluang menguntungkan Pak Prabowo agar bisa di atas angin melawan Pak Jokowi, tapi terpaksa kita harus puas dengan obrolan semacam “yang online online itu ya”.

Dilansir dari Asumsi, Ariful Amri selaku peneliti lingkungan dari Universitas Riau juga pernah meneliti kerusakan tanah yang diakibatkan perkebunan kelapa sawit. Satu batang pohon sawit bisa menyerap 12 liter unsur hara dan air dalam tanah dalam satu hari, dan hal ini kerap memicu banjir dan longsor.

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menyebutkan bahwa sepanjang 2018 terdapat 300 kasus konflik agraria yang terjadi di 16 provinsi. Dari sana muncul 367 pelanggaran hak asasi manusia (HAM), hingga penembakan, penganiayaan, dan kriminalisasi warga sipil yang mencoba mempertahankan lahannya.

Cek saja di Google, negara kita banjir konflik. Mulai dari perjuangan warga Kendeng menolak pembangunan dua pabrik semen level internasional, yakni Indocement dan Semen Indonesia. Ada juga perjuangan warga Sukamulya dan Teluk Jambe di Jawa Barat yang berjuang mempertahankan tanah garapannya. Kasus limbah beracun di Lidarkowo, Jawa Timur pun belum kelar, sementara warga Pesanggaran di Banyuwangi masih jatuh bangun melindungi gunung Tumpang Pitu dari tambang emas sampai dituduh komunis segala.

Topik debat capres kedua semalam adalah perihal energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup. Dibanding topik di edisi debat lainnya nanti, naga-naganya topik ini yang paling tidak terlalu akrab bagi sebagian besar penonton, kecuali mereka yang punya perhatian terhadap isu terkait, khususnya para aktivis lingkungan dan pangan.

Sebagai orang yang doyan mengikuti isu-isu agraria, saya tercekat dengan pernyataan Pak Jokowi. Berharap sekali Pak Prabowo bisa “menegur” pernyataan itu, namun ia pun malah terlalu fanatis dengan kalimat “impor-impor” dan “kekayaan yang dibawa lari dari Indonesia”.

Yang paling akrab bagi saya adalah proyek bandara baru di Kulon Progo, New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang sudah menggusur ratusan rumah dan sawah (yang terbukti suburnya). Bandara ini memang dibangun lantaran Bandara Adi Sutjipto dipandang sudah tak lagi cukup memenuhi kebutuhan penerbangan di Jogja. Naik pesawat memang penting, tapi–sejak kuota internet tidak bisa dimakan—lebih penting mana dengan menjaga ketahanan pangan?

“Sawit merupakan komoditas strategis. Saat ini, lahan perkebunan sawit telah mencapai 14 juta hektare. Namun, sistem perkebunan sawit dan pengelolaannya masih menimbulkan masalah sosial dan lingkungan. Pertanyaannya, bagaimana kebijakan dan strategi Bapak untuk memperbaiki tata kelola sawit?”

Perhatikan, di pertanyaan itu sudah ada sejumlah kata kunci: “menimbulkan masalah sosial dan lingkungan,” serta “tata kelola”.

Lah, yang melebih-lebihkan (prestasi) kan situ, Pak?