Reliable sports betting platform_Texas Hold'em_Best online casinos in Indonesia 2021

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Taruhan lotre

“MBBaccarataccaBaccaratrataukaBaccarath kau menjadi pendamping setiap langkahku? Menjadi penBaccaratyemangatku dan menjadi penasihat hidupku jika aku lalai nanti? Saat dimana kita tertimpa masalah atau musibah, maukah kau untuk selalu menemaniku?”

Ya, bertahun-tahun sudah kita bersama. Hampir segala pahit manis kehidupan semasa pacaran pernah kita lewati berdua. Tapi seiring bertambahnya usia, toh aku belum juga bisa membawamu dalam hubungan yang lebih tinggi levelnya.

Hai Sayang,

“Maafkan aku jika tak bisa menjanjikanmu pernikahan mewah seperti dalam dongeng maupun buku cerita. Maaf jika acara pernikahan kita nanti berlangsung apa adanya dan biasa saja.”

Sayang, maafkanlah jika nanti aku terlalu sibuk bekerja. Kulakukan ini semata-mata hanya untuk kita—aku, kamu, serta anak-anak. Terkadang aku malu dan merasa bersalah jika harus kulalui hari-hari seperti itu. Namun, terima kasih jika kau mau mengerti dan memaklumi profesiku. Semoga kelak kau akan setia menyambut kepulanganku. Membawakan teh hangat lalu menyempatkan untuk memijat bahuku.

Aku juga sudah tak tahan mewujudkan mimpi untuk memulai lembaran baru bersamamu. Ingin rasanya mengawali tiap pagi disambut dengan senyuman hangat dari wajahmu yang kuyu. Saling mengecup mengucapkan selamat pagi karena kita sudah jadi satu jiwa yang dipisahkan oleh raga berbeda.

Membacakan mereka buku cerita, mengajari matematika, tak lupa pula mengajar tata krama serta pendidikan agama. Ingatlah Sayang, dunia ini sudah banyak memiliki orang-orang pandai dan cerdas, namun naas, dunia ini kekurangan mereka yang benar-benar jujur serta mengerti etika. Tentu ingin agar anak-anak kita dapat berguna bagi sesama serta bahagia di dunia dan akhirat bukan?

Namun, kujanjikan sebuah rumah yang layak bagimu dan keluarga kecil kita nanti. Mungkin rumah mungil dengan pekarangan kecil di bagian belakang, dengan sebuah pohon mangga dan sebuah pohon jambu di sisi lainnya. Lalu akan kubuatkan ayunan diantara keduanya, dimana nantinya bisa kau gunakan untuk membaca buku-buku kesayanganmu, sekaligus menjadi tempat bermain buah hati kita setelahnya. Tapi sebelum semua hal itu dapat terwujud, aku ingin menanyakan pertanyaan terakhir kepadamu,

Aku mencintaimu apa adanya tanpa ada alasan yang mendasari, toh kita memang tak perlu menjelaskan secara gamblang mengapa kita mencintai seseorang. Karena cinta sendiri abstrak, tak dapat dilihat secara kasat mata, dan benar kata orang bahwa cinta memang tak ada logika. Aku mencintai kamu karena aku cinta, itu saja.

“Maaf ya, Sayang. Kuharap kau terus dilimpahi kesabaran.”

Dari aku,

“Kenapa nggak coba dekat sama si X aja? Dia sering nanyain kamu lho, udah tampan, baik, mapan pula.”

Namun dibalik mimpi-mimpi yang indah itu, aku sadar dan mencoba berpikir logis. Sadar bahwa menikah membutuhkan rencana matang dan biaya yang tak sedikit. Apalagi lagi orangtua kita yang belum tentu setuju apa yang akan kita jalani untuk resepsi. Makanan ini dan itu, souvenir pernikahan lucu, belum lagi membayar penghulu, serta berbagai kebutuhan lainnya. Tapi Sayang,

Tapi, terima kasih telah memilihku dan mempercayakan hati serta masa depanmu padaku. Padahal di luar sana masih banyak laki-laki yang mungkin lebih berpendidikan, lebih tampan, dan lebih banyak harta dibanding aku. Terima kasih telah menunjukkan padaku bahwasannya cinta itu sederhana.

Bukan paras cantik yang kucari, bukan pula tampilan fisik sempurna yang kuiingini. Aku hanya ingin bertemu denganmu yang meyakini bahwa cinta tak sekedar memandang fisik maupun materi.

Sedang apa kamu di sana? Lama rasanya ketika kita terakhir berjumpa. Rindu rasanya sudah bergejolak luar biasa. Namun, aku belum juga bisa mengupayakan pertemuan. Aku di sini sedang berjuang demi kita dan masa depan.

Seperti telah kusebutkan di awal, bahwa aku bukanlah laki-laki sempurna. Alih-alih sempurna, aku justru lebih banyak memiliki kekurangan. Kuharap engkau akan mengerti kondisiku, sebelum atau bahkan sesudah kita mengikat janji.

“Kamu yakin mau menikah sama dia? Dia kan belum dapet kerjaan yang oke.”

Teman atau keluargamu mungkin sering melontarkan pertanyaan dan pertanyaan semacam itu. Sementara, aku hanyalah aku, seorang pria yang bekerja dengan upah biasa saja. Bahkan, secara fisik pun tampilanku tak bisa dibilang istimewa.

Jujur, aku sudah tak kuat lagi membendung perasaan ini. Tak mampu menahan rasa yang bergejolak dalam dada. Bayangan untuk hidup bersamamu selalu hadir dalam tiap mimpiku.

Pria yang semoga jadi masa depanmu